top of page

SEARCH BY TAGS: 

RECENT POSTS: 

FOLLOW ME:

  • Facebook Clean Grey
  • Twitter Clean Grey
  • Instagram Clean Grey

Ruang Tunggu

  • Sep 8, 2015
  • 2 min read

Panasnya siang hari ini masih tetap sama seperti hari hari kemarin, terasa sangat kering. Di dalam kos terdengar suara sayup sayup wanita setengah baya, oh ternyata saya tertidur untuk waktu yang sangat lama. Terbangun dan terkejut ketika didepan pintu sudah berdiri perempuan yang menawarkan semacam obat nyamuk dengan nada memaksanya, karena pusingnya kepala akibat terbangun dengan tiba tiba, saya pun melontarkan kata tolakan yang halus. Perempuan tersebut tetap memaksa, dan ketika saya menolaknya kembali, perempuan tersebut lari begitu saja dengan meninggalkan muka yang sangat masam.

Itu semua adalah pengantar, yah pengantar menuju cerita tentang sebuah situasi dimana saya sendiri mencoba untuk berubah menjadi seseorang yang selalu menunggu. Dan saya mengibaratkan kondisi seperti ini seperti "ruang tunggu".

Sebut saja saya Nisa, 20 tahun. Saat ini sedang menjadi mahasiswi perguruan swasta di kota Semarang. Menurut saya,menunggu adalah sebuah situasi dimana harus tetap tinggal sampai apa yang saya tunggu datang. Itulah pemikiran saya, perempuan yang tanpa berpikir belit untuk menyimpulkan sesuatunya, tanpa logika di dalamnya. Tanpa toleransi di dalamnya, saya adalah orang tegas. Saat ini saya sedang dekat dengan seorang laki-laki yang sangat jauh jaraknya. Di sebuah kota yang jauh dengan tempat tinggal saya, Semarang. Menunggu adalah hal tiap hari yang harus kumengerti, menunggu dan terkadang tanpa pernah tau sampai kapan harus menunggu. Sampai pada akhirnya menunggu itu sendiri menjadi pemicu terjadinya setiap pertikaian apapun yang kami berdua akan lakukan maupun sedang lakukan. Entah rasa yang takut untuk kembali menunggu ataupun diri ini sudah mulai lelah untuk menunggu. Terdapat suatu ruang tunggu di dalam, dan saya memiliki kesempatan untuk menunggu atau tidak menunggu, saya putuskan untuk tidak menunggu. Karena untuk apa saya menunggu ketika saya masih memiliki kesempatan untuk tidak menunggu. jangan mengharapkan kata maaf, dan jangan mengharapkan apapun dari semua yang telah diputuskan. Sudut pandang yang sangat logis dimata saya lelaki sebenarnya. Mereka tidak pernah meminta, tapi terkadang kondisi dan keadaanlah yang membuat menjadi seperti ini.

Terimakasih kawanku.


 
 
 

Comments


© 2015 by AldiNugroho

  • b-facebook
  • Twitter Round
  • Instagram Black Round
bottom of page